Fenomena Penolakan Ajaran Agama Tradisional

Ketika VOA Indonesia menerbitkan artikel yang berjudul Makin Banyak Kaum Muda AS Tolak Ajaran Agama Tradisional pada tanggal 17 mei 2012 lalu, saya langsung tertarik untuk membacanya. Isu tentang agama adalah isu yang sangat sensitif namun selalu terlihat menarik untuk dibahas dan didiskusikan. Setelah membaca artikel tersebut secara keseluruhan, timbul beberapa pertanyaan dalam diri saya.

Diawali dengan kalimat pembuka “Satu kajian baru di AS yang memusatkan perhatian pada kelompok usia 18 – 24 tahun mendapati banyak anak muda menolak ajaran agama tradisional”. Ajaran agama tradisional? Ini maksudnya gimana sih?. Pernyataan pertama di artikel ini benar-benar membuat saya bertanya-tanya. Istilah ajaran agama tradisional terkesan asing di telinga saya. Hingga akhirnya saya menemukan jawabannya setelah membaca keseluruhan artikel. Ajaran agama tradisional bisa diartikan sebagai suatu cara seseorang dalam memilih agama, dimana suatu agama yang dipilih dikarenakan ajaran oleh orang tuanya, dengan kata lain ajaran agama tradisional adalah suatu teknik seseorang memilih untuk memeluk suatu agama dikarenakan hanya mengikuti agama kedua orang tuanya. Dari cara pandang saya itulah kurang lebihnya pengertian dari ajaran agama tradisional.

Apalagi setelah saya sampai pada pernyataan Abigail Clauhs, mahasiswi jurusan agama pada Universitas Bostons, “Ada banyak pergeseran, dan orang cenderung untuk tidak berkomitmen pada seperangkat doktrin atau dogma yang ketat, meskipun mereka mungkin masih percaya Tuhan”. Hal ini menunjukkan bahwa para pemuda AS sudah mulai berpikir bahwa ajaran agama tradisional adalah suatu hal yang patut ditinggalkan. Pernyataan di akhir kalimat yang menyatakan bahwa sebenarnya masih ada kemungkinan mereka masih percaya akan Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan keyakinan atau agama oleh para pemuda di AS sudah mulai menunjukkan tren ke arah yang lebih baik.

Kenapa saya menganggapnya sebagai suatu hal yang baik? Menurut saya, agama adalah salah satu urusan manusia yang bersifat sangat pribadi. Tidak ada satupun orang yang berhak melarang orang lain untuk menganut keyakinan atau agama tertentu, bahkan orang tuanya sekalipun. Jika diibaratkan dengan permisalan istilah dalam jual beli. Orang tua hanya berperan sebagai pedagang yang menawarkan dagangannya pada anak-anaknya yang posisinya sama dengan pembeli, keputusan pembeli untuk membeli atau tidak suatu barang adalah mutlak di tangan pembeli. Pembeli boleh membeli ataupun menolak barang dagangan yang ditawarkan, namun pedagang juga berhak berargumen untuk meningkatkan posisi tawar barang dagangannya. Posisi manusia sebagai makhluk sosial juga sama dengan orang tua, hanya berhak memberikan saran dan masukan bagi seseorang dalam memilih keyakinan atau agamanya. Masalah keputusan adalah hak masing-masing individu. Menjadi Atheis, bahkan Theis sekalipun adalah hak mutlak masing-masing individu.

Hal menarik yang saya lihat dari fenomena penolakan ajaran agama tradisional di Amerika adalah tidak adanya berita mengenai tindakan kekerasan yang dialami oleh para pemuda Amerika yang memutuskan meninggalkan ajaran agama tradisional. Mereka cenderung saling menghargai akan keputusan masing-masing individu, salah satu faktor yang membuat tidak terjadinya konflik terkait fenomena ini adalah bagaimana mereka menempatkan agama di ranah yang sangat privat. Agama adalah salah satu bentuk hak dari setiap individu yang sifatnya sangat pribadi dan bukan merupakan bahan konsumsi publik.

Melihat lebih luas lagi, agama atau keyakinan di negara kita terkesan masih berada di tempat yang salah. Agama seakan menjadi kepentingan orang banyak, sehingga tak jarang konflik yang terjadi atas dasar agama cukup sering terjadi di negara kita. Sudah saatnya kita merubah pola pikir kita, bahwa agama adalah hak pribadi setiap orang yang bersifat privat.

Di sisi lain, melihat fenomena penolakan ajaran agama tradisional di kalangan pemuda AS, coba kita bandingkan dengan fenomena yang sama dengan pemuda di Indonesia. Menurut anda, mana yang lebih dominan. Pemuda yang memilih agama dengan ajaran agama tradisional atau pemuda yang memilih agama dikarenakan pilihannya sendiri? Menurut saya, melihat teman-teman di sekeliling saya, cukup banyak teman saya yang sudah cukup kritis dalam memilih agama atau keyakinanannya. Namun di sisi lain, mereka yang memilih agama hanya karena ikut-ikutan agama orang tuanya juga banyak atau istilah lainnya Islam KTP atau Kristen KTP dan sebagainya yang hanya sebagai pengisi kolom agama di KTP. Perhitungan kasarnya 50:50 lah. Kembali lagi, sebenarnya memilih agama apapun dengan alasan apapun adalah hak setiap orang. Namun alangkah baiknya jika pemuda kita juga mulai mengikuti tren positif ini, yaitu meninggalkan ajaran agama tradisional dan mencari sendiri agama atau keyakinan apa yang terbaik bagi diri sendiri. Semakin merebaknya fenomena ini, maka akan semakin terbentuk karakter pemuda Indonesia yang peduli, bukan karakter yang masa bodo. Pemuda yang pada hidupnya saja masa bodo, apalagi pada negaranya?

Advertisements

3 thoughts on “Fenomena Penolakan Ajaran Agama Tradisional

  1. kurang lebih sependapat lah.
    kita milih karena kita suka, menjadi suka karena terbiasa, terbiasa karena sering bertemu, sering bertemu menjadi dekat.

  2. Pingback: Fenomena Penolakan Ajaran Agama Tradisional « Kontes Ngeblog VOA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s